home

Wednesday, March 31, 2021

MAKALAH ALIRAN HISTORIS (Sejarah Pemikiran Ekonomi)

 ALIRAN HISTORIS

 

MAKALAH

 

disusun guna memenuhi tugas matakuliah

 Sejarah Pemikiran Ekonomi

Dosen pengampu:

Ibu Nurul Setia Ningrum SE, MM

 

 

 

 

 

 


Oleh Kelompok 5:

Ahmad Raziqi

E20152162

Wiwin Irawati

E20152126

Ainul Yaqin

20152144

Ahmad Sofin

E20152153

 

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

EKONOMI SYARIAH

November 2016


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pemikiran ekonomi memang terus akan mengalami perubahan mulai dari pemikikran ekononomi klasik di zaman Plato, Aristoteles, Sinopon dan lainnya di zaman yunani kuno sampai pada saat sekarang ini pemikiran ekonomi mulai berkembang. Dari yang awalnya cukup sederhana sampai pada yang sangat kompleks dan cukup modern dan maju. Tentunya pemikiran-pemikiran dari yang menghasilkan ilmu ekonomi lahir dari ide-ide kreatif para tokoh-tokoh di setiap zamannya sebagai sebuah alternative dari permasalahan ekonomi yang dihadapi para masing-masingtokoh dizamannya.

Dengan berhasilnya para tokoh neo-klasik dalam mementalkan serangan-serangan pemikir ekonomi sosialis/marxis, bendera sistem liberal/kapitalisme kembali berkobar. Walaupun sistem pakar neo-klasik berhasil mementahkan serangan kaum sosialis, bukan berarti sistem ini dianut semua negara-negara di Eropa. Pada waktu yang bersamaaan , tepatnya di jerman berkembang suatu aliran pemikiranekonomi yang disebut dengan Aliran sejarah (historism).

Tesis dan Anti tesis dari pemikiran ekonomi, memang tidak akan pernah sirna dibuktikan lahirnya aliran sejarah ini adalah sebuah bantahan terhadap pemikiran tokoh soosialis/marxis dan sistem ekonomi liberal/kapitalisme di zaman neo-klasik disi timbullah Aliran sejarah tersebut tepatnya di jerman. Muncullah tokoh-tokoh Aliran klasik di sini seperti diantaranya Friedrich List, Bruno Hilderbrand, Gustav von Schmoler, Werner Sombart dan lain sebagainya. Kerangka berfikir dari para pemikir ekonomi Aliran sejarah ini dilandaskan kepada persepektif sejarah dalam  merancang dan mengatasi masalah ekonomi saat itu.

 

 

B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan sebuah permasalahan yaitu:

             Apa pengertian dari Aliran sejarah (historis) dalam pemikiran ekonomi itu?

             Apa sebenarnya Aliran sejarah (historis) itu?

3      Siapa dan bagaimana pemikiran tokoh-tokoh dari Aliran sejarah itu?

C.    Tujuan

1.      Untuk mengetahui pengertian dari istilah Aliran Sejarah dalam pemikiran ekonomi tersebut.

2.      Untuk mengetahui apa sebenarnya Aliran sejarah (historis) tersebut.

3.      Untuk mengetahui siapa saja dan bagaimana pemikiran tokoh-tokoh Aliran Sejarah (historis) tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Aliran sejarah (historis)

Dengan berhasilnya para tokoh neo-klasik dalam mementalkan serangan-serangan pemikir ekonomi sosialis/marxis, bendera sistem liberal/kapitalisme kembali berkobar. Walaupun sistem pakar neo-klasik berhasil mementahkan serangan kaum sosialis, bukan berarti sistem ini dianut semua negara-negara di Eropa. Pada waktu yang bersamaaan , tepatnya di jerman berkembang suatu aliran pemikiran ekonomi yang disebut dengan Aliran sejarah (historism)[1]

Nama aliran sejarah terinspirasi dari oleh keberhasilan metode sejarah dalam bidang-bidang hukum dan bahasa. Oleh segolongan pakar-pakar jerman sendiri, ada yang menamakan aliran sejarah sebagai aliran “etis”, untuk menunjukkan ketidak senangan mereka terhadappaham hedonism klasik.[2]

Menurut KBBI elektronik Aliran di sini didefinisikan sebagai sesuatu yang mengalir (tentang hawa, air,listrik, dan sebagainya). Sedangkan sejarah adalah asal-usul (keturunan) silsilah. Kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau, riwayat, cerita.[3]Dapat dikolaborasikan keduanya menjadi Aliran sejarah yang memiliki pengertian suatu Aliran pemikiran tentang ide-ide baru dari sebuah ilmu dengan menggunakan pendekatan sejarah atau Dialektika Historis.

B.     Aliran Sejarah (historis)

Pola pemikiran aliran sejarah (historis) disinu didasarkan kepada persepektif sejarah. Kerangkadasar teoritis dan pola pendekatan yang digunakan oleh aliran sejarah dalam memecahkan masalah-masalah ekonomisangat berbeda dan terpisah dari aliran utama (mainstream) yang berawal dari kaum klasik.

Pemikiran-pemikiran klasik secara eksplisit mengakui bahwa manusia pada hakikatnya bersifat serakah (hedonisme). Paham ini kemudian  dikembangkan menjadi paham utilitarianisme. Pendekatan psikologi hedonistik dan utilitarianisme kaum  klasik disini dianggap terlalu sempit oleh pemikir aliran sejarah. Menurut doktin aliran sejarah, motif orang dalam bertindak tidak hanya didasarkan kepada motif laba dan kepentinga pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh motif-motif lainyang beragam. Pengalaman sejarah menurut mereeka, memberikan cukup banyak bukti bahwa motif orang dalam bertindak tidak hanya didasarkan pada kepentingan pribadi, tetapi juga didorong oleh etika dan implus-implusnya.

Pada intinya pemikiran aliran sejarah menolak argumentasi pemikiran-pemikiran klasik bahwa undang-undang alam tentang kehiduapan ekonomi. Masyarakat harus dianggap sebagai suatu kesatuan organisme tempat interaksi sosial berkait dan berhubungan  antarindividu. pemikir-pemikir aliran sejarah menghendaki agar kegiatan masyarakat dilandaskan pada suatu sistem yang menyeluruh, yang mencakup semua organisme dalam kehidupan-                bermasyarakat  sebagai suatu keseluruhan.

Pemikir-pemikir aliran sejarah dengan gencar menyerang metode pendekatan deduktif yang digunakan kaum klasik. Sebagaimana diketahui, dengan pendekatan deduktif analisis ekonomi bertitik tolak dari pengamatan secara umum, yaitu dari postulat, dalil atau permis yang dianggap sudah diakui secara umum. Kemudian dari hasil pengamatan secara umum ini diambil kesimpulan secara khusus. Bagi pakar aliran sejarah, metode ini dianggap terlalu abstrak dan terlalu teoritis, yang dari beberapa postulat kemudian meng-claim bahwa pemikiran-pemikiran mereka berlaku umum (universal). Menurut kaum sejarah metode tersebut dapat membawa kita kepada kesimpulan yang keliru. Untuk mengatasi kelemahan metode klasik tersebut, pemikir aliran sejarah menawarkan metode induktif-historis.[4]

Dengan metode iduktif historis, mereka mengumpulkan kenyataan-kenyataan ekonomi dari searah. Dari data yang dikumpulkan ini kemudian diambil kesimpulan umum. Pola pendekatan induksi-empiris berpangkal tolak dari pengamatan  dan pengkaian yang bersifat khusus dan dari sini diambil suatu kesimpulan umum. Dengan metode induksi-empiris, hukum-hukum, dalil-dalil dan teori-teori ekonomi hanya berlaku di suatu tempat pada waktu tertentu. Hal tersebut disebabkan karena hukum, dalil, maupun teori ekonomi sangat tergantung pada kondisi dan lingkungan setempat. Dengan demikian, bagi pemikir sejarah, hukum ekonomi tidak berlaku universal, tetapi bisa berubah sewaktu-waktu sesuai keadaan dan masalah yang dihadapi.[5]

C.    Tokoh-tokoh dan pemikiran aliran sejarah (historis)

1.      Friedrich List (1789-1846)    
             Friedrich List lahir dan memperoleh pendidikan di Jerman. Ia pernah mengajar di Negara tersebut, tetapi idenya memaksanya untuk pindah ke Amerika Serikat. Salah satu buku list yang terkenal adalah:Das Nationale System der Politischen Oekonomie, der Internationale Handel, die Handels Politik und der Deutche ollverein, atau dalam bahasaInggrisnya: The National System of Political Economy, International Trade, Trade Policy and the German Customs Union (1841). Dalam buku-buku tersebut List menyerangpakar-pakar klasik yang disebutnya   “kosmopolitan” sebab mengabaikan peran pemerintah.    
               Lebih lanjut List mengatakan bahwa kita biasa mengambil kesimpulan tentang perkembangan suatu masyarakat dari data sejarah. Dari cara mereka berproduksi maka setiap kelompok masyarakat pada umumnya melewati tahap-tahap sejarah sebagai berikut:         

a.)    Tahap berburu dan menangkap ikan, atau tahap barbarian, yang           berciri  masayarakat primitif sebab kebutuhan dari apa yangdisediakan oleh alam

b.)    Zaman mengembala ataupastoral, yang mulai berternak tapi masih            nomaden atau tidak menetap,   

c.)    Zaman agraris, dimana masyarakat mulai menetap dan bertani   secara subsisten,

d.)     Zaman bertani, menghasilkan industri manifaktur sederhana dan          mulai melakukan perdagangan lokal, dan

e.)     Masyarakat bertani, manufaktur lebih maju dan telah melakukan perdaganagan internasional.     
              Menurut List, system perdagangan bebas yang dianjurkan kaum klasia hanya cocok bagi negara-negara yang sudah berada pada tahap ke lima (waktu itu misalnya Inggris), tapi system perdagangan bebas jelas tidak cocok untuk keadaan Jerman waktu itu, yang keadaan industrialisasinya agak tertinggal dengan keadaan industrialisasi di negeri Inggris.Untuk memajukan perekonomian Jerman, List menyarankan agar pemerintah menyusun berbagai kegatan ekonomi sebagai bagian dari kegiatan produksi dan kemampuan nasional. Dua sektor utama yang sangat menentukan perekonomian nasaional adalah sektor pertanian dan industri. Menurut List sektor pertanian diperlukan untuk menyediakan bahan pangan masyarakat, namun sektor ini tidak dapat membawa perekonomian lebih maju. Lebih tegasnya List berpendapat bahwa negara harus juga memajukan perekonomian melalui sektor industri, dan industrialisasi lah yang merupakan langkah awal membawa perekonomian lebih maju. Namun industrialisasi tidak hanya bertujuan untuk memajukan sektor industri, tetapi lebih jauh juga membawa perbaikan pada sektor pertanaian serta perkembangan dan kemajuan dibidang-bidang lainnya, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat luas.

Dari uraian di atas jelas bahwa List lebih banyak mencurahkan perhatian pada permasalahan ekonomi, terutama bagaimana melindungi .industrialisasi Jerman yang waktu itu tertinggal dari industrialisasi Inggris.

2.       Bruno Hildebrand (1812-1878)        
                  Hildebrand aktif dalam berbagai penelitian dan penulisan karya karya ilmiah. Dalam melakukan penelaan dan penelitian-penelitian ekonomi, ia menekankan perlunya mempelajari sejarah, maksudnya penelitian ekonomi harus didukung oleh data statistik empiris yang dikumpulkan dalam penelitian sejarah ekonomi. Hildebrand juga menekankan pentingnya evolusi dalam perekonomian masyarakat. Menurut Hildebrand, dilihat dari cara tiap kelompok masyarakat dalam melakukan tukar-menukar dan berdagang, kelompok-kelompok masyarakat tersebut dapat dibedakan atas tingkatan- tingkatan sebagai berikut:      
a.) Tukar-menukar secara in-natural atau barter,       
b.) Tukar menukar dengan perantara uang,   
c.) Tukar menukar dengan menggunakan kredit.      
                  Penelitian Hildebrand diatas dianggap cukup baik dalam bidang sosiologi dan kurang bermanfaat dalam bidang ekonomi. Yang mana kelemahannya yaitu beberapa penelitan berdasarkan pada monografi sejarah yang bersifat deskriptif tentang masalah-masalah ekonomi, tetapi karyanya tersebut tidak ditujukan pada acuan yang padu. Oleh sebab itu karya-karya penelitan sejarah Hildebrand tersebut dinilai tidak berarti dalam perkembangan ilmu ekonomi.                           

3.       Gustav von Schmoler (1839-1917)   
                Schmoler terkenal karena terlibat dalam perdebatan yang sangat sengit dan pakar-pakar klasik, terutama dengan Carl Menger, tentang metodologi perkembangan ilmu ekonomi. ia dianggap sebagai pemikir sejarah yang paling gigih menyarankan agar metode deduktif klasi ditukar dengan metode induktif-empiris. Pandangan Schmoler agak berbeda dengan pandangan tokoh-tokoh aliran sejarah lainnya, yang mana tokoh-tokoh sejarah yang lainnya menghendaki berbagai kebijakan di dalam bidang ekonomi, Schmoler menghendaki agar kebijaksanaannya menyangkut politik sosial, dan lebih jauh dari itu, juga meningkatkan kesejahteraan kaum buruh.           
Untuk mencapai tujuannya Schmoler dan rekan-rekannya mendirikan sebuah forum untuk menghimpun pemikiran-pemikiran dalam menghadapi berbagi masalah ekonomi dan sosial, dan hasil pertemuan serta kesimpulan disampaikan kepada pemerintah sebagai masukan. Salah satu berhasilnya pertemuan-pertemuan yang di sampaikan kepada pemerintah dengan dibentuknya undang-undang untuk melindungi kaum buruh dari penindasan kaum pengusaha. Jaminan sosial yang diberikan kepada kaum buruh tersebut yang sesuai dengan undang-undang yang telah ditetapkan dianggap sangat maju untuk zaman bagi dirinya, sebab dinegara-negara Eropa pada umumnya belum ada perundang-undangan perlindungan kaum buruh seperti yang di Jerman tersebut.

4.      Werner Sombart (1863-1941)
Penelitan Sombart yang sering dikutip oleh orang adalah penelitannya tentang tahap-tahap perkembangan kapitalisme. Sombart mengatakan bahwa pertumbuhan masyarakat kapitalis sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan masyarakat. Dalam karyanya:Der   Moderne Kapitalismus (1902), Werner Sombart lebih lanjut mengatakan bahwa pertumbuhan masyarakat kapitalis dapat dibedakan atas beberapa tingkatan, yaitu:           
a.) Tingkat pra-kapitalisme    
Pada tingkat pra-kapitalisme kehidupan ekonomi masih bersifat komunal, struktur sosial masih berat kearah pertanian, kebutuhan manusia masih rendah, uang belum dikenal, motif laba maksimum masih belum nampak, dan produk seluruhnya lebih ditunjukan untuk diri sendiri.            

b.) Tingkat kapitalisme menengah     
Pada tingkat ini walaupun kehidupan ekonomi masih bersifat komunal, tetapi mulai memperlihatkan ciri-ciri individualisme, struktur pertanian industri mulai berimbang, masyarakat mulai mengenal uang, motif laba maksimum mulai nampak, dan produksi tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi ditunjukan juga untuk pasar.    
c.) Tingkat kapitalisme tinggi
Pada tingkat ini disebutkan tingkat kapitalisme tinggi, ciri masyarakat komunal hilang, paham individualisme mulai menonjol, struktur ekonomi semakin berat ke industri dan perkotaan, peran uang semakin menonjol, motif laba maksimum makin kelihatan, dan sebagian produksi dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan pasar.  
d.) Tingkat kapitalisme akhir 
Tingkat ini ditunjukan oleh ciri-ciri dimana sikap individualisme lebih tinggi, tetapi kepentingan masyarakat tidak diabaikan, industri mulai ke padat modal, disamping uang kartal juga mulai di kenal uang giral, motif laba maksimum lebih tinggi, tetapi juga dipertimbangkan penggunaan laba untuk kepentingan masyarakat, dan produksi untuk pasar.

5.       Max Weber (1864-1920)      
Max Weber adalah ahli sosiologi dalam arti luas dimana ilmu ekonomi dan sejarah ekonomi oleh Weber juga dimasukan sebagai ilmu sosiologi. Dalam bukunya yang cukup terkenal, yaitu The Protestant Ethic            and the Spirit of Capitalism (1958) ia menjelaskan ada pengaruhnya ajaran agama Protestan terhadap prilaku ekonomi.Perilaku ekonomi kapitalis, kata Weber, bertolak dari harapan akan keuntungan yang akan diperoleh dengan m,empergunakan kesempatan bagi tukar menukar yang didasarkan pada kesempatan mendapatkan keuntungan secara damai. Hasil pengamatan Weber menunjukan bahwa golongan penganut agama Protestan, terutama kaum Calvinis menduduki tempat teratas. Menurut orang Calvinis keselamatan hanya diberikan pada orang-orang terpilih, hal inilah yang mendorong orang bekerja keras agar masuk menjadi golongan orang terpilih tersebut. Dalam pemikiran teologis inilah semangat kapitalisme yang bersandar pada cita, ketekunan, hemat, rasional, berperhitungan, dan sanggup menahan diri, menemukan pasangannya.       
Tidak semua orang menerima tesis Weber, diantaranya yang menentang, yaitu Bryan S Turner, R.H.Tawney, Kurt Samuelson, Robert N. Bellah, Andrew Greeley, dan tokoh-tokoh lainnya yang pernah meneliti dampak ajaran agama lain terhadap kehidupan ekonomi, misalnya penelitian tentang masyarakat islam dan penganut-penganut agama Tokugawa di Jepang. Kritik-kritik tersebut antara lain dapat dibaca dalam buku yang diedit Taufik Abdullah: Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi (1979).

6.       Henry Charles Carey (1793-1879)    
Henry Carey adalah seorang pemimpin gerakan proteksionis dari Amerika Serikat. Dalam karyanya: Principles of Social Science, Carey menekankan perlunya diversifikasi industri untuk menciptakan lapangan pekerjaan lebih luas. Menurutnya suatu negara yang hanya mengandalkan pembangunan pada ekspor produk-produk pertanian dinilainya sebagai tindakan yang bodoh dan merugikan.
Pendukung-pendukung aliran sejarah yang lain dari Amerika Serikat adalah Simon Nelson Patten dan Daniel Reymond. Nelson Patten (1852-1992) mengajukan argumen-argumen yang menyokong proteksi sebagaimana yang dikemukakan oleh Carey. Sedangakan Daniel Reymond (1786-1849) adalah seorang ahli hukum yang kemudian tertarik dengan persoalan-persoalan ekonomi. Daniel Raymond merupakan ekonom politik penting pertama muncul di Dia menulis Thoughts on Political Economy (1820) dan The Elements of Political Economy(1823).          
Daniel Reymond berteori bahwa “kekayaan menciptakan tenaga kerja,” yang mungkin telah perbaikan berdasarkan pemikiran Adam Smith dari Eropa. Daniel Raymond berpikir bahwa ekonomi Inggris sebenarnya perekonomian berpangkat lebih tinggi anggota masyarakat, dan bukan ekonomi seluruh bangsa. Ia berpendapat bahwa kekayaan bukanlah suatu agregasi nilai tukar, seperti Adam Smith telah mengandung itu. Daniel Raymond berpendapat bahwa kekayaan adalah kemampuan atau kesempatan untuk mendapatkan keperluan dan kemudahan hidup oleh tenaga kerja.Pada tahun 1845, ia menulis sebuah buku judul “The Elements of Constitutional Law” yang mencakup definisi dasar sebuah pemerintahan, sebuah negara berdaulat, sebuah konfederasi dan sebuah konstitusi. Sementara konsep-konsep ini telah berevolusi, banyak teori-teori dasar yang masih memiliki relevansi yang diuraikan dalam analisis politik modern. Tulisannya mempengaruhi perkembangan politik di Amerika Serikat. Jika di perhatikan, dapat dikatakan bahwa doktrin aliran sejarah kurang jelas. Lebih tegas mereka tidak mengembangkan suatu “system” melainkan lebih merupakan reaksi terhadap pemikiran-pemikiran klasik dan neo-klasik. Pemikir sejarah lebih banyak hanya mengkritik metode deduksi klasik, tetapi tidak melihat kelemahan dari metode induksi empiris mereka sendiri.Yang mana kelemahan utama induksi ialah sulitnya mencapai suatu kesimpulan yang padu tentang perekonomian masyarkat.   
Keuntungan lain yang biasa dipetik dari serangan pemikiran-pemikiran aliran sejarah terhadap kaum klasik ialah dalam pengembangan penelitian metode ekonomi. Oleh Schumpeter, perdebatan tentang metode induksi dan deduksi ini dinilai sebagai penghambur-penghambur energi saja. Tetapi tentu tidak semua orang berpendapat dengan Schumpeter, sebab sebagaimana yang terbukti kemudian dari perdebatan ini lahir suatu kesadaran bagi pemikir-pemikir ekonomi di kemudian hari, bahwa dalam melakukan penelitian ekonomi sebaiknya di gunaka metode deduksi (reasoning from the general to the particular) dan induksi(reasoning from the particular to the general) secara hilir mudik, yang kemudian dikenaldengan metode reflective thinking. Untuk mengembangkan industri dosmetik, List menganjurkan adanya suatu lembaga negara yang akan melindungi industri dalam negara melalui pajak impor, dan pemerintah secara intervensi untuk menyeimbangkan pertanian, industri dan perdagangan.[6]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dari berbagi penjelasan diatas dapat ditarik benang merah sebagai berikut:

Aliran sejarah terinspirasi dari oleh keberhasilan metode sejarah dalam bidang-bidang hukum dan bahasa. Oleh segolongan pakar-pakar jerman sendiri, ada yang menamakan aliran sejarah sebagai aliran “etis”, untuk menunjukkan ketidak senangan mereka terhadappaham hedonism klasik.

Pola pemikiran aliran sejarah (historis) disinu didasarkan kepada persepektif sejarah. Kerangkadasar teoritis dan pola pendekatan yang digunakan oleh aliran sejarah dalam memecahkan masalah-masalah ekonomisangat berbeda dan terpisah dari aliran utama (mainstream) yang berawal dari kaum klasik.

Tokoh-tokoh aliran historis disini diantaranya:                           

Friedrich List (1789-1846)          
            Bruno Hildebrand (1812-1878)                                                                                  Gustav von Schmoler (1839-1917)           
            Werner Sombart (1863-1941)
            Max Weber (1864-1920)       
            Henry Charles Carey (1793-1879). Dengan pemikiran-pemikiran metode               aliran historis masing-masing

 

 

Saran

            Kepada semua masyarakat umumnya dan kepada kaum terpelajar dan terdidik khususnya terhadap mahasiswa ekonomi supaya dapat memahami dan mengerti tentang teori ekonomi Aliran Sejarah ini beserta para tokoh-tokohnya, supaya nantinya teori tersebut dapat dijadikan acuan untuk menjalankan perekonomian sehari-hari juga dapat menjadi bahan penelitian natinya  apakah teori itu sesuai dengan  kenyataan sosial yang ada.

 

                      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar pustaka

Deliarnov, 2012, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, PT Rajagrafinda Persada, Jakarta.

http//speunand.blogspot.co.id/2011/01/bab-9-aliran-sejarah html?m=1

KBBI Elektronik.



[1]Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Hal125

[2]Ibid hal 126

[3]KBBI elektonik

[4]Ibid hal 126

[5] Ibid hal 126-127

[6] http//speunand.blogspot.co.id/2011/01/bab-9-aliran-sejarah html?m=1.di unduh oleh Ahmad Raziki pada hari sabtu, 8 oktober 2016.

MAKALAH ALIRAN HISTORIS (Sejarah Pemikiran Ekonomi)

  ALIRAN HISTORIS   MAKALAH   disusun guna memenuhi tugas matakuliah  Sejarah Pemikiran Ekonomi Dosen pengampu: Ibu Nurul Seti...