ALIRAN HISTORIS
MAKALAH
disusun guna memenuhi tugas
matakuliah
Sejarah Pemikiran Ekonomi
Dosen pengampu:
Ibu Nurul Setia Ningrum SE, MM
![]() |
Oleh Kelompok 5:
Ahmad Raziqi
E20152162
Wiwin Irawati
E20152126
Ainul Yaqin
20152144
Ahmad Sofin
E20152153
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
EKONOMI SYARIAH
November 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pemikiran ekonomi memang terus akan mengalami perubahan mulai dari
pemikikran ekononomi klasik di zaman Plato, Aristoteles, Sinopon dan lainnya di
zaman yunani kuno sampai pada saat sekarang ini pemikiran ekonomi mulai
berkembang. Dari yang awalnya cukup sederhana sampai pada yang sangat kompleks
dan cukup modern dan maju. Tentunya pemikiran-pemikiran dari yang menghasilkan
ilmu ekonomi lahir dari ide-ide kreatif para tokoh-tokoh di setiap zamannya
sebagai sebuah alternative dari permasalahan ekonomi yang dihadapi para
masing-masingtokoh dizamannya.
Dengan berhasilnya para tokoh neo-klasik dalam mementalkan
serangan-serangan pemikir ekonomi sosialis/marxis, bendera sistem
liberal/kapitalisme kembali berkobar. Walaupun sistem pakar neo-klasik berhasil
mementahkan serangan kaum sosialis, bukan berarti sistem ini dianut semua
negara-negara di Eropa. Pada waktu yang bersamaaan , tepatnya di jerman berkembang
suatu aliran pemikiranekonomi yang disebut dengan Aliran sejarah (historism).
Tesis dan Anti tesis dari pemikiran ekonomi, memang tidak akan
pernah sirna dibuktikan lahirnya aliran sejarah ini adalah sebuah bantahan
terhadap pemikiran tokoh soosialis/marxis dan sistem ekonomi
liberal/kapitalisme di zaman neo-klasik disi timbullah Aliran sejarah tersebut
tepatnya di jerman. Muncullah tokoh-tokoh Aliran klasik di sini seperti
diantaranya Friedrich List, Bruno Hilderbrand, Gustav von Schmoler, Werner Sombart
dan lain sebagainya. Kerangka berfikir dari para pemikir ekonomi Aliran sejarah
ini dilandaskan kepada persepektif sejarah dalam merancang dan mengatasi masalah ekonomi saat
itu.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat
dirumuskan sebuah permasalahan yaitu:
Apa
pengertian dari Aliran sejarah (historis) dalam pemikiran ekonomi itu?
Apa
sebenarnya Aliran sejarah (historis) itu?
3 Siapa
dan bagaimana pemikiran tokoh-tokoh dari Aliran sejarah itu?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengertian dari istilah Aliran Sejarah dalam pemikiran ekonomi
tersebut.
2.
Untuk
mengetahui apa sebenarnya Aliran sejarah (historis) tersebut.
3.
Untuk
mengetahui siapa saja dan bagaimana pemikiran tokoh-tokoh Aliran Sejarah
(historis) tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Aliran sejarah (historis)
Dengan berhasilnya para tokoh neo-klasik dalam mementalkan
serangan-serangan pemikir ekonomi sosialis/marxis, bendera sistem
liberal/kapitalisme kembali berkobar. Walaupun sistem pakar neo-klasik berhasil
mementahkan serangan kaum sosialis, bukan berarti sistem ini dianut semua
negara-negara di Eropa. Pada waktu yang bersamaaan , tepatnya di jerman
berkembang suatu aliran pemikiran ekonomi yang disebut dengan Aliran sejarah (historism)[1]
Nama aliran sejarah terinspirasi dari oleh keberhasilan metode
sejarah dalam bidang-bidang hukum dan bahasa. Oleh segolongan pakar-pakar
jerman sendiri, ada yang menamakan aliran sejarah sebagai aliran “etis”, untuk
menunjukkan ketidak senangan mereka terhadappaham hedonism klasik.[2]
Menurut KBBI elektronik Aliran di sini didefinisikan sebagai
sesuatu yang mengalir (tentang hawa, air,listrik, dan sebagainya). Sedangkan
sejarah adalah asal-usul (keturunan) silsilah. Kejadian dan peristiwa yang
benar-benar terjadi pada masa lampau, riwayat, cerita.[3]Dapat
dikolaborasikan keduanya menjadi Aliran sejarah yang memiliki pengertian suatu Aliran
pemikiran tentang ide-ide baru dari sebuah ilmu dengan menggunakan pendekatan
sejarah atau Dialektika Historis.
B.
Aliran Sejarah (historis)
Pola pemikiran aliran sejarah (historis) disinu didasarkan kepada
persepektif sejarah. Kerangkadasar teoritis dan pola pendekatan yang digunakan
oleh aliran sejarah dalam memecahkan masalah-masalah ekonomisangat berbeda dan
terpisah dari aliran utama (mainstream) yang berawal dari kaum klasik.
Pemikiran-pemikiran klasik secara eksplisit mengakui bahwa manusia
pada hakikatnya bersifat serakah (hedonisme). Paham ini kemudian dikembangkan menjadi paham utilitarianisme.
Pendekatan psikologi hedonistik dan utilitarianisme kaum klasik disini dianggap terlalu sempit oleh
pemikir aliran sejarah. Menurut doktin aliran sejarah, motif orang dalam
bertindak tidak hanya didasarkan kepada motif laba dan kepentinga pribadi,
tetapi juga dipengaruhi oleh motif-motif lainyang beragam. Pengalaman sejarah
menurut mereeka, memberikan cukup banyak bukti bahwa motif orang dalam
bertindak tidak hanya didasarkan pada kepentingan pribadi, tetapi juga didorong
oleh etika dan implus-implusnya.
Pada intinya pemikiran aliran sejarah menolak argumentasi
pemikiran-pemikiran klasik bahwa undang-undang alam tentang kehiduapan ekonomi.
Masyarakat harus dianggap sebagai suatu kesatuan organisme tempat interaksi
sosial berkait dan berhubungan
antarindividu. pemikir-pemikir aliran sejarah menghendaki agar kegiatan
masyarakat dilandaskan pada suatu sistem yang menyeluruh, yang mencakup semua
organisme dalam kehidupan-
bermasyarakat sebagai suatu
keseluruhan.
Pemikir-pemikir aliran sejarah dengan gencar menyerang metode
pendekatan deduktif yang digunakan kaum klasik. Sebagaimana diketahui, dengan
pendekatan deduktif analisis ekonomi bertitik tolak dari pengamatan secara
umum, yaitu dari postulat, dalil atau permis yang dianggap sudah diakui secara
umum. Kemudian dari hasil pengamatan secara umum ini diambil kesimpulan secara
khusus. Bagi pakar aliran sejarah, metode ini dianggap terlalu abstrak dan
terlalu teoritis, yang dari beberapa postulat kemudian meng-claim bahwa
pemikiran-pemikiran mereka berlaku umum (universal). Menurut kaum
sejarah metode tersebut dapat membawa kita kepada kesimpulan yang keliru. Untuk
mengatasi kelemahan metode klasik tersebut, pemikir aliran sejarah menawarkan
metode induktif-historis.[4]
Dengan metode iduktif historis, mereka mengumpulkan
kenyataan-kenyataan ekonomi dari searah. Dari data yang dikumpulkan ini
kemudian diambil kesimpulan umum. Pola pendekatan induksi-empiris berpangkal
tolak dari pengamatan dan pengkaian yang
bersifat khusus dan dari sini diambil suatu kesimpulan umum. Dengan metode
induksi-empiris, hukum-hukum, dalil-dalil dan teori-teori ekonomi hanya berlaku
di suatu tempat pada waktu tertentu. Hal tersebut disebabkan karena hukum,
dalil, maupun teori ekonomi sangat tergantung pada kondisi dan lingkungan
setempat. Dengan demikian, bagi pemikir sejarah, hukum ekonomi tidak berlaku
universal, tetapi bisa berubah sewaktu-waktu sesuai keadaan dan masalah yang
dihadapi.[5]
C.
Tokoh-tokoh dan pemikiran aliran sejarah (historis)
1.
Friedrich
List (1789-1846)
Friedrich List lahir dan
memperoleh pendidikan di Jerman. Ia pernah mengajar di Negara tersebut, tetapi
idenya memaksanya untuk pindah ke Amerika Serikat. Salah satu buku list yang
terkenal adalah:Das Nationale System der Politischen Oekonomie, der
Internationale Handel, die Handels Politik und der Deutche ollverein, atau
dalam bahasaInggrisnya: The National System of Political Economy, International
Trade, Trade Policy and the German Customs Union (1841). Dalam buku-buku
tersebut List menyerangpakar-pakar klasik yang disebutnya “kosmopolitan” sebab mengabaikan peran
pemerintah.
Lebih lanjut List
mengatakan bahwa kita biasa mengambil kesimpulan tentang perkembangan suatu
masyarakat dari data sejarah. Dari cara mereka berproduksi maka setiap kelompok
masyarakat pada umumnya melewati tahap-tahap sejarah sebagai berikut:
a.)
Tahap
berburu dan menangkap ikan, atau tahap barbarian, yang berciri masayarakat primitif sebab kebutuhan dari apa
yangdisediakan oleh alam
b.)
Zaman
mengembala ataupastoral, yang mulai berternak tapi masih nomaden atau tidak menetap,
c.)
Zaman
agraris, dimana masyarakat mulai menetap dan bertani secara subsisten,
d.)
Zaman bertani, menghasilkan industri
manifaktur sederhana dan mulai
melakukan perdagangan lokal, dan
e.)
Masyarakat bertani, manufaktur lebih maju dan
telah melakukan perdaganagan internasional.
Menurut List, system
perdagangan bebas yang dianjurkan kaum klasia hanya cocok bagi negara-negara
yang sudah berada pada tahap ke lima (waktu itu misalnya Inggris), tapi system
perdagangan bebas jelas tidak cocok untuk keadaan Jerman waktu itu, yang
keadaan industrialisasinya agak tertinggal dengan keadaan industrialisasi di
negeri Inggris.Untuk memajukan perekonomian Jerman, List menyarankan agar
pemerintah menyusun berbagai kegatan ekonomi sebagai bagian dari kegiatan
produksi dan kemampuan nasional. Dua sektor utama yang sangat menentukan
perekonomian nasaional adalah sektor pertanian dan industri. Menurut List
sektor pertanian diperlukan untuk menyediakan bahan pangan masyarakat, namun
sektor ini tidak dapat membawa perekonomian lebih maju. Lebih tegasnya List
berpendapat bahwa negara harus juga memajukan perekonomian melalui sektor
industri, dan industrialisasi lah yang merupakan langkah awal membawa
perekonomian lebih maju. Namun industrialisasi tidak hanya bertujuan untuk
memajukan sektor industri, tetapi lebih jauh juga membawa perbaikan pada sektor
pertanaian serta perkembangan dan kemajuan dibidang-bidang lainnya, termasuk
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat luas.
Dari uraian di atas jelas bahwa List lebih banyak mencurahkan
perhatian pada permasalahan ekonomi, terutama bagaimana melindungi
.industrialisasi Jerman yang waktu itu tertinggal dari industrialisasi Inggris.
2.
Bruno Hildebrand (1812-1878)
Hildebrand aktif dalam
berbagai penelitian dan penulisan karya karya ilmiah. Dalam melakukan penelaan
dan penelitian-penelitian ekonomi, ia menekankan perlunya mempelajari sejarah,
maksudnya penelitian ekonomi harus didukung oleh data statistik empiris yang
dikumpulkan dalam penelitian sejarah ekonomi. Hildebrand juga menekankan
pentingnya evolusi dalam perekonomian masyarakat. Menurut Hildebrand, dilihat
dari cara tiap kelompok masyarakat dalam melakukan tukar-menukar dan berdagang,
kelompok-kelompok masyarakat tersebut dapat dibedakan atas tingkatan- tingkatan
sebagai berikut:
a.) Tukar-menukar secara in-natural atau barter,
b.) Tukar menukar dengan perantara uang,
c.) Tukar menukar dengan menggunakan kredit.
Penelitian Hildebrand
diatas dianggap cukup baik dalam bidang sosiologi dan kurang bermanfaat dalam
bidang ekonomi. Yang mana kelemahannya yaitu beberapa penelitan berdasarkan
pada monografi sejarah yang bersifat deskriptif tentang masalah-masalah
ekonomi, tetapi karyanya tersebut tidak ditujukan pada acuan yang padu. Oleh
sebab itu karya-karya penelitan sejarah Hildebrand tersebut dinilai tidak
berarti dalam perkembangan ilmu ekonomi.
3.
Gustav von Schmoler (1839-1917)
Schmoler terkenal karena terlibat dalam
perdebatan yang sangat sengit dan pakar-pakar klasik, terutama dengan Carl
Menger, tentang metodologi perkembangan ilmu ekonomi. ia dianggap sebagai
pemikir sejarah yang paling gigih menyarankan agar metode deduktif klasi
ditukar dengan metode induktif-empiris. Pandangan Schmoler agak berbeda dengan
pandangan tokoh-tokoh aliran sejarah lainnya, yang mana tokoh-tokoh sejarah
yang lainnya menghendaki berbagai kebijakan di dalam bidang ekonomi, Schmoler
menghendaki agar kebijaksanaannya menyangkut politik sosial, dan lebih jauh
dari itu, juga meningkatkan kesejahteraan kaum buruh.
Untuk mencapai tujuannya Schmoler dan rekan-rekannya mendirikan sebuah forum
untuk menghimpun pemikiran-pemikiran dalam menghadapi berbagi masalah ekonomi
dan sosial, dan hasil pertemuan serta kesimpulan disampaikan kepada pemerintah
sebagai masukan. Salah satu berhasilnya pertemuan-pertemuan yang di sampaikan
kepada pemerintah dengan dibentuknya undang-undang untuk melindungi kaum buruh
dari penindasan kaum pengusaha. Jaminan sosial yang diberikan kepada kaum buruh
tersebut yang sesuai dengan undang-undang yang telah ditetapkan dianggap sangat
maju untuk zaman bagi dirinya, sebab dinegara-negara Eropa pada umumnya belum
ada perundang-undangan perlindungan kaum buruh seperti yang di Jerman tersebut.
4.
Werner
Sombart (1863-1941)
Penelitan Sombart yang sering dikutip oleh orang adalah penelitannya tentang
tahap-tahap perkembangan kapitalisme. Sombart mengatakan bahwa pertumbuhan
masyarakat kapitalis sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan masyarakat. Dalam
karyanya:Der Moderne Kapitalismus
(1902), Werner Sombart lebih lanjut mengatakan bahwa pertumbuhan masyarakat
kapitalis dapat dibedakan atas beberapa tingkatan, yaitu:
a.) Tingkat pra-kapitalisme
Pada tingkat pra-kapitalisme kehidupan ekonomi masih bersifat komunal, struktur
sosial masih berat kearah pertanian, kebutuhan manusia masih rendah, uang belum
dikenal, motif laba maksimum masih belum nampak, dan produk seluruhnya lebih
ditunjukan untuk diri sendiri.
b.) Tingkat kapitalisme menengah
Pada tingkat ini walaupun kehidupan ekonomi masih bersifat komunal, tetapi
mulai memperlihatkan ciri-ciri individualisme, struktur pertanian industri
mulai berimbang, masyarakat mulai mengenal uang, motif laba maksimum mulai
nampak, dan produksi tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi ditunjukan juga
untuk pasar.
c.) Tingkat kapitalisme tinggi
Pada tingkat ini disebutkan tingkat kapitalisme tinggi, ciri masyarakat komunal
hilang, paham individualisme mulai menonjol, struktur ekonomi semakin berat ke
industri dan perkotaan, peran uang semakin menonjol, motif laba maksimum makin
kelihatan, dan sebagian produksi dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan pasar.
d.) Tingkat kapitalisme akhir
Tingkat ini ditunjukan oleh ciri-ciri dimana sikap individualisme lebih tinggi,
tetapi kepentingan masyarakat tidak diabaikan, industri mulai ke padat modal,
disamping uang kartal juga mulai di kenal uang giral, motif laba maksimum lebih
tinggi, tetapi juga dipertimbangkan penggunaan laba untuk kepentingan
masyarakat, dan produksi untuk pasar.
5.
Max Weber (1864-1920)
Max Weber adalah ahli sosiologi dalam arti luas dimana ilmu ekonomi dan sejarah
ekonomi oleh Weber juga dimasukan sebagai ilmu sosiologi. Dalam bukunya yang cukup
terkenal, yaitu The Protestant Ethic and
the Spirit of Capitalism (1958) ia menjelaskan ada pengaruhnya ajaran agama
Protestan terhadap prilaku ekonomi.Perilaku ekonomi kapitalis, kata Weber,
bertolak dari harapan akan keuntungan yang akan diperoleh dengan m,empergunakan
kesempatan bagi tukar menukar yang didasarkan pada kesempatan mendapatkan
keuntungan secara damai. Hasil pengamatan Weber menunjukan bahwa golongan
penganut agama Protestan, terutama kaum Calvinis menduduki tempat teratas.
Menurut orang Calvinis keselamatan hanya diberikan pada orang-orang terpilih,
hal inilah yang mendorong orang bekerja keras agar masuk menjadi golongan orang
terpilih tersebut. Dalam pemikiran teologis inilah semangat kapitalisme yang
bersandar pada cita, ketekunan, hemat, rasional, berperhitungan, dan sanggup
menahan diri, menemukan pasangannya.
Tidak semua orang menerima tesis Weber, diantaranya yang menentang, yaitu Bryan
S Turner, R.H.Tawney, Kurt Samuelson, Robert N. Bellah, Andrew Greeley, dan
tokoh-tokoh lainnya yang pernah meneliti dampak ajaran agama lain terhadap
kehidupan ekonomi, misalnya penelitian tentang masyarakat islam dan
penganut-penganut agama Tokugawa di Jepang. Kritik-kritik tersebut antara lain
dapat dibaca dalam buku yang diedit Taufik Abdullah: Agama, Etos Kerja dan
Perkembangan Ekonomi (1979).
6.
Henry Charles Carey (1793-1879)
Henry Carey adalah seorang pemimpin gerakan proteksionis dari Amerika Serikat.
Dalam karyanya: Principles of Social Science, Carey menekankan perlunya
diversifikasi industri untuk menciptakan lapangan pekerjaan lebih luas.
Menurutnya suatu negara yang hanya mengandalkan pembangunan pada ekspor
produk-produk pertanian dinilainya sebagai tindakan yang bodoh dan merugikan.
Pendukung-pendukung aliran sejarah yang lain dari Amerika Serikat adalah Simon
Nelson Patten dan Daniel Reymond. Nelson Patten (1852-1992) mengajukan
argumen-argumen yang menyokong proteksi sebagaimana yang dikemukakan oleh
Carey. Sedangakan Daniel Reymond (1786-1849) adalah seorang ahli hukum yang
kemudian tertarik dengan persoalan-persoalan ekonomi. Daniel Raymond merupakan
ekonom politik penting pertama muncul di Dia menulis Thoughts on Political
Economy (1820) dan The Elements of Political Economy(1823).
Daniel Reymond berteori bahwa “kekayaan menciptakan tenaga kerja,” yang mungkin
telah perbaikan berdasarkan pemikiran Adam Smith dari Eropa. Daniel Raymond
berpikir bahwa ekonomi Inggris sebenarnya perekonomian berpangkat lebih tinggi
anggota masyarakat, dan bukan ekonomi seluruh bangsa. Ia berpendapat bahwa
kekayaan bukanlah suatu agregasi nilai tukar, seperti Adam Smith telah
mengandung itu. Daniel Raymond berpendapat bahwa kekayaan adalah kemampuan atau
kesempatan untuk mendapatkan keperluan dan kemudahan hidup oleh tenaga
kerja.Pada tahun 1845, ia menulis sebuah buku judul “The Elements of
Constitutional Law” yang mencakup definisi dasar sebuah pemerintahan, sebuah
negara berdaulat, sebuah konfederasi dan sebuah konstitusi. Sementara
konsep-konsep ini telah berevolusi, banyak teori-teori dasar yang masih
memiliki relevansi yang diuraikan dalam analisis politik modern. Tulisannya
mempengaruhi perkembangan politik di Amerika Serikat. Jika di perhatikan, dapat
dikatakan bahwa doktrin aliran sejarah kurang jelas. Lebih tegas mereka tidak
mengembangkan suatu “system” melainkan lebih merupakan reaksi terhadap
pemikiran-pemikiran klasik dan neo-klasik. Pemikir sejarah lebih banyak hanya
mengkritik metode deduksi klasik, tetapi tidak melihat kelemahan dari metode
induksi empiris mereka sendiri.Yang mana kelemahan utama induksi ialah sulitnya
mencapai suatu kesimpulan yang padu tentang perekonomian masyarkat.
Keuntungan lain yang biasa dipetik dari serangan pemikiran-pemikiran aliran
sejarah terhadap kaum klasik ialah dalam pengembangan penelitian metode ekonomi.
Oleh Schumpeter, perdebatan tentang metode induksi dan deduksi ini dinilai
sebagai penghambur-penghambur energi saja. Tetapi tentu tidak semua orang
berpendapat dengan Schumpeter, sebab sebagaimana yang terbukti kemudian dari
perdebatan ini lahir suatu kesadaran bagi pemikir-pemikir ekonomi di kemudian
hari, bahwa dalam melakukan penelitian ekonomi sebaiknya di gunaka metode
deduksi (reasoning from the general to the particular) dan induksi(reasoning
from the particular to the general) secara hilir mudik, yang kemudian
dikenaldengan metode reflective thinking. Untuk mengembangkan industri
dosmetik, List menganjurkan adanya suatu lembaga negara yang akan melindungi
industri dalam negara melalui pajak impor, dan pemerintah secara intervensi
untuk menyeimbangkan pertanian, industri dan perdagangan.[6]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari berbagi penjelasan diatas dapat ditarik benang merah sebagai
berikut:
Aliran sejarah terinspirasi dari
oleh keberhasilan metode sejarah dalam bidang-bidang hukum dan bahasa. Oleh
segolongan pakar-pakar jerman sendiri, ada yang menamakan aliran sejarah
sebagai aliran “etis”, untuk menunjukkan ketidak senangan mereka terhadappaham hedonism
klasik.
Pola pemikiran aliran sejarah
(historis) disinu didasarkan kepada persepektif sejarah. Kerangkadasar teoritis
dan pola pendekatan yang digunakan oleh aliran sejarah dalam memecahkan
masalah-masalah ekonomisangat berbeda dan terpisah dari aliran utama (mainstream)
yang berawal dari kaum klasik.
Tokoh-tokoh aliran historis disini diantaranya:
Friedrich List (1789-1846)
Bruno Hildebrand (1812-1878) Gustav von
Schmoler (1839-1917)
Werner Sombart (1863-1941)
Max Weber (1864-1920)
Henry Charles Carey
(1793-1879). Dengan pemikiran-pemikiran metode aliran
historis masing-masing
Saran
Kepada semua
masyarakat umumnya dan kepada kaum terpelajar dan terdidik khususnya terhadap
mahasiswa ekonomi supaya dapat memahami dan mengerti tentang teori ekonomi
Aliran Sejarah ini beserta para tokoh-tokohnya, supaya nantinya teori tersebut
dapat dijadikan acuan untuk menjalankan perekonomian sehari-hari juga dapat
menjadi bahan penelitian natinya apakah
teori itu sesuai dengan kenyataan sosial
yang ada.
Daftar pustaka
Deliarnov,
2012, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, PT Rajagrafinda Persada, Jakarta.
http//speunand.blogspot.co.id/2011/01/bab-9-aliran-sejarah
html?m=1
KBBI Elektronik.
